Ini Saham Paling Kuat dan Rentan Terhadap Pelemahan Rupiah

 

Jakarta — Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan bisa menekan daya beli masyarakat dan mempengaruhi kinerja emiten. Namun, ada beberapa emiten yang tahan terhadap pelemahan terutama, sektor konsumer.

Dalam riset Bahana Sekuritas, PT Gudang Garam (GGRM), PT Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) adalah tiga perusahaan yang paling resilient terhadap pelemahan rupiah. 

Saham GGRM dan HMSP memiliki bahan baku mayoritas dari dalam negeri, hanya sebagian tembakau yang diimpor, sementara itu beban perusahaan yang paling besar adalah pembayaran cukai sehingga meskipun nilai tukar rupiah melemah, kinerja kedua perusahaan rokok ini tidak terlalu terpengaruh. 

Saham MYOR, Meskipun sebagian besar bahan baku terpengaruh dengan depresiasi rupiah, namun perusahaan makanan ini juga memiliki penjualan ekspor, sehingga beban biaya dalam dollar yang dikeluarkan bisa di offset dengan pendapatan dollar yang dihasilkan. 

”Masyarakat akan lebih mementingkan kebutuhan untuk rokok dan makanan dibanding barang lain yg lebih bersifat diskresioner, inilah satu faktor yang menguntungkan bagi GGRM, HMSP dan MYOR,” papar Analis Bahana Sekuritas Deidy Wijaya dalam keterangan resmi, Senin (10/9/2018)

Sementara itu, tiga perusahaan yang lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah PT Erajaya Swasembada (ERAA), PT Mitra Adiperkasa (MAPI) dan PT Ace Hardware (ACES). Masalah yang dihadapi ketiga perusahaan ini hampir sama, kurang diuntungkan saat nilai tukar terdepreasiasi karena porsi impor yang cukup besar.

Ketiga emiten ini juga tidak memiliki banyak ruang untuk memotong opex (karena tingkat variable opex/revenue yg relatif kecil), kemampuan perusahan untuk menaikkan harga cukup terbatas, sehingga akan berpengaruh terhadap permintaan (jika harga dinaikan terlalu tinggi) atau margin perusahaan bila rupiah terus terdepresiasi. 

Bahana membuat riset ini berdasarkan 5 faktor kunci dan juga pada pola historis pelemahan rupiah yang cukup signifikan yang terjadi pada 2013, rupiah terdepresiasi hingga 24% dalam waktu 7 bulan dan pada 2015 kembali mengalami depresiasi sebesar 11% dalam waktu 9 bulan.

Yakni, eksposur valuta asing bersih yang dimiliki oleh perusanaan yakni omzet yang dimiliki oleh perusahaan dikurangi dengan beban biaya, kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga barang, berikutnya adalah jumlah hari persedian (inventory days), fleksibilitas dalam memotong opex dan yang terakhir dengan melihat eksposur utang valuta asing perusahaan. 

Sumber:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.