PERSPEKTIF: Konsistensi Transformasi Struktural, Senjata Avengers Lawan Thanos

 

JAKARTA –  “But, first we must prevent the trade wars from becoming the infinity war…”. Cuplikan pidato Presiden Joko Widodo yang disampaikan di World Economic Forum on Asean 2018 pada pekan lalu tersebut menjadi viral dan salah satu pusat perhatian media di dalam negeri.

Pidato di atas merupakan salah satu poin yang diungkapkan presiden terkait dengan kebijakan perang dagang yang dimulai oleh Amerika Serikat terhadap China.

Kenaikan tarif yang dilancarkan sejak awal tahun ini memang merupakan salah satu janji kampanye Presiden Donald Trump untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat lebih cepat dibandingkan periode presiden sebelumnya.

China, sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia, membalas dengan menaikkan tarif dengan nominal yang relatif terhadap produk-produk ekspor Amerika Serikat (AS).

Perang dagang antara kedua negara ini memang menjadi faktor yang dominan menghiasi pembahasan forum-forum ekonomi dunia.

Dalam beberapa kali pertemuan dunia usaha di Asia Pasifik yang kami hadiri, terdapat tiga isu utama yang selalu dibahas: Fenomena proteksi yang mengancam perjanjian dagang multilateral, perkembangan teknologi finansial yang bisa mendisrupsi model bisnis institusi finansial, dan potensi pembiayaan unit usaha mikro, kecil dan menengah.

Perang dagang (jika berlanjut terus) tentu akan berdampak kepada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bersama dengan normalisasi kebijakan moneter di AS, keduanya menjadi sumber volatilitas di jangka pendek hingga menengah pada negara-negara berkembang.

Kekhawatiran utama adalah perang dagang akan memicu pelemahan perekonomian AS dan China. IMF memproyeksikan dalam 5 tahun ke depan, kedua negara akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari posisi saat ini, AS berada di bawah 2% sementara China berada di bawah 6%.

Menariknya, proyeksi tersebut dibuat bahkan sebelum adanya perang dagang yang mungkin dapat menurunkan perekonomian mereka lebih dalam lagi.

Lantas, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Perekonomian China dan AS telah memiliki peranan bagi pertumbuhan ekspor Indonesia. Total rasio ekspor ke dua negara tersebut telah meningkat menjadi 23% – 24% dari total ekspor.

Elastisitas pertumbuhan ekonomi China ke Indonesia adalah sebesar 0,07. Artinya, setiap satu persen penurunan ekonomi China akan menurunkan ekonomi Indonesia sebesar 0,07 percentage point. Sementara elastisitas ekonomi AS ke Indonesia tidak jauh berbeda, yaitu sebesar 0,05.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.