Polemik restrukturisasi Bakrie Telecom

RUPS PT Bakrie Telecom Tbk

 

Jakarta — Tidak berbeda dengan saudara-saudaranya yang berada di bawah bendera Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) harus berjuang menyelesaikan utang. Akibat besarnya nilai utang yang ditanggung, BTEL harus membukukan modal atau ekuitas negatif hingga Rp 14,70 triliun per akhir semester pertama 2018.

Persoalan terberat BTEL kini terletak pada upaya meyakinkan lembaga yudikatif di Amerika Serikat (AS) agar mau mengakui perdamaian dalam penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Indonesia pada 9 Desember 2014 silam. Upaya tersebut diwujudkan manajemen BTEL dengan mengajukan permohonan yang populer disebut Chapter 15 ke pengadilan AS pada 29 Januari 2018.

Chapter 15 merupakan bagian dalam Kode Kepailitan AS (U.S. Bankruptcy Code) yang disusun guna meningkatkan kerjasama antara pengadilan di AS dan pengadilan di luar AS dalam perkara kepailitan internasional. Chapter 15 diajukan BTEL karena terdapat persoalan dengan krediturnya yang berasal dari AS. Kreditur yang dimaksud merupakan pembeli wesel senior yang diterbitkan anak usaha BTEL, Bakrie Telecom Pte Ltd.

Pada 7 Mei 2010, Bakrie Telecom Pte Ltd menerbitkan guaranteed senior notes due 2015 (wesel senior) senior US$ 250 juta, berbunga 11,50% yang terdaftar di Singapore Exchange Securities Trading. Kurang dari setahun kemudian, Bakrie Telecom Pte Ltd juga merilis wesel senior sejumlah US$ 130 juta pada harga 107% (lihat tabel 1).

 

Tabel 1
Utang Wesel Senior PT Bakrie Telecom Tbk
Penerbit Tgl Penerbitan Nilai  Keterangan
Bakrie Telecom Pte Ltd 7 Mei 2010 US$ 250 juta 1. Jatuh tempo 7 Mei 2015
2. Suku bunga 11,50%
3. Bunga dibayar per semester setiap tanggal 7 Mei dan 7 November, dimulai pada 7 November 2010.
4. Penjamin: PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL); PT Bakrie Connectivity; dan PT Bakrie Digital Net (dahulu bernama PT Bakrie Network).
5. Pembeli awal (innitial purchasers): Credit Suisse Singaputa Ltd, Merill Lynch Singapura, Morgan Stanley Asia Singapura. 
6. Koordinator global tunggal (sole global coordinator): Credit Suisse Singapore Ltd.
7. Wali amanat, agen pembayaran dan pelaku pendaftaran: The Bank of New York Mellon. 
8. Standar Chartered Bank cabang Jakarta bertindak sebagai agen penjamin Indonesia sehubungan dengan saham yang dijaminkan.
Bakrie Telecom Pte Ltd 27 Januari 2011 US$ 130 juta 1. Dijual pada harga 107%
2. Penjamin utang: BTEL, PT Bakrie Connectivity, PT Bakrie Digital dan Bakrie Telecom Pte Ltd.
3. Hasil penerbitan wesel senior diserahkan kepada BTEL oleh Bakrie Telecom Pte Ltd dalam bentuk utang intercompany yang dibuat pada 27 Januari 2011.
Sumber: Laporan Keuangan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

 

Perjalanan bisnis inti BTEL, sebagai operator seluler berbasis code division multiple access (CDMA) tidak berjalan baik. Pada tahun 2012, BTEL mencetak kerugian Rp 3,14 triliun, melesat tiga kali lipat dibandingkan rugi tahun 2011 yang senilai Rp 782,70 miliar.

Tahun 2013 BTEL juga masih mencatatkan kerugian, meski nilainya berkurang menjadi Rp 2,65 triliun. Buruknya kinerja BTEL berdampak pada macetnya pembayaran utang, termasuk wesel senior. Sejak November 2013, BTEL gagal membayar bunga utang wesel senior.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.