Sederet emiten menggelar rights issue, mana yang paling oke?

Ilustrasi pergerkan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/08/08/2018

 

Jakarta — Meski pasar masih bergerak volatile beberapa emiten menyatakan akan menggelar rights issue. Emiten-emiten ini antara lain PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN), PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD), PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk (IKAI) dan PT Wika Beton Tbk (WTON).

Melalui rights Issue ini, IBFN berharap bisa meraih dana segar Rp 105 miliar dengan harga penawaran Rp 397 per saham. IBFN memilih melakukan rights issue atas dasar kebutuhan penambahan modal. Perusahaan pembiayaan ini akan menggunakan dana hasil penerbitan saham baru untuk modal kerja, seperti biaya overhead kantor, biaya-biaya kepada pihak ketiga seperti utang usaha, pembelian barang-barang modal dan keperluan ekspansi usaha.

Sementara Intekramik Alamsari (IKAI) mengalokasikan dana dari rights issue untuk memperkuat sktuktur permodalan dan juga untuk ekspansi bisnis dengan menambah portfolio anak perusahaan. IKAI menawarkan dana Rp 120 per saham, sehingga IKAI membidik dana segar Rp 463 miliar dalam aksi korporasi ini.

Selanjutnya Visi Telekomunikasi Infrastruktur (GOLD) akan menawakan saham baru dengan harga Rp 550 per saham. GOLD membidik dana Rp 132 miliar dalam penerbitan saham baru. GOLD akan menggunakan dana untuk melakukan konversi utang. Wika Beton akan melakukan rights issues untuk mendongkrak ekuitas, yang rencananya akan dilakukan pada tahun depan.

Valdi Kurniawan, analis Phintraco Sekuritas mengatakan, dana rights issues yang digunakan untuk resturukturisasi utang cukup tepat dilakukan emiten mengingat tingginya volatilitas pasar keuangan global saat ini. Penggunaan dana rights issue untuk ekspansi bahkan lebih baik lagi. “Dana yang digunakan untuk ekspansi juga cukup mungkin dilakukan, karena secara umum indikator-indikator ekonomi domestik cukup solid,” kata Valdi, Senin (10/9).

Valdi menyarankan, dalam menyikapi emiten yang hendak melakukan rights issue, investor harus teliti. Terutama dalam melihat rencana rights issue dan melihat kondisi keuangan perusahaan tersebut.

Lebih lanjut Valdi menambahkan, jika Investor yakin dengan outlook positif dari penerbitan rights issue, maka investor dapat mengeksekusi hak atau ikut serta dalam pelaksanaan rights issue.

Dari keempat emiten yang bersiap menawarkan saham dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu, Valdi menilai bahwa fundamental WTON adalah yang paling baik. Menurut Valdi, WTON membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 17,20% year on year (yoy) menjadi Rp 160,53 miliar pada semester I dari sebelumnya Rp 136,96 miliar. Pertumbuhan pendapatan mencapai 30,01% menjadi Rp 2,59 triliun. 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.