Tren bullish harga batubara dan ekspansi cerahkan prospek Adaro

michelle.clysia – Lokasi proses Biofuel – ADARO Indonesia Terapkan Program B10-B15. PT Adaro Energy Tbk (ADARO) mengembangkan program kebijakan energi nasional tentang implementasi penggunaan bahan bakar nabati (biodiesel). Dalam hal ini, Adaro mengimplementasikan penggunaan biodiesel baik program B10-B15 serta B20.

 

JAKARTA — Prospek bisnis PT Adaro Energy Tbk (ADRO) masih tergolong cerah di sisa tahun nanti berkat tren kenaikan harga batubara dunia. Selain itu, serangkaian ekspansi bisnis juga dinilai akan mendatangkan manfaat bagi perusahaan secara jangka panjang.

Arandi Ariantara, Analis Samuel Sekuritas Indonesia menyebut, kenaikan harga batubara diprediksi masih bisa terjadi di kuartal III dan IV mengingat permintaan batubara dari China akan melonjak seiring datangnya musim dingin.

Maka dari itu, ia menaikan asumsi harga batubara 2018 dari US$ 90 per metrik ton menjadi US$ 105 per metrik ton. Dengan begitu, penjualan batubara ADRO di semester kedua diprediksinya tumbuh mencapai 29%.

Selama tak ada kendalan cuaca, kenaikan harga batubara dunia dinilai dapat dimaksimalkan oleh ADRO. Apalagi, lebih dari 70% pendapatan emiten tersebut berasal dari ekspor penjualan batubara.

Arandi bilang, mayoritas mitra dagang ADRO di luar negeri merupakan konsumen akhir (end user) yang sudah dipastikan selalu memiliki kebutuhan terhadap batubara. “Akibatnya permintaan terhadap batubara yang diproduksi ADRO lebih stabil dan tidak musiman,” katanya, Senin (17/9).

Di samping itu, ADRO juga bakal diuntungkan oleh sejumlah ekspansi bisnis yang dilakukannya. Salah satunya adalah akuisisi tambang batubara Kestrel milik Rio Tinto.

Arandi yakin, di tengah volatilitas kurs rupiah yang meningkat, ADRO tak terganjal oleh besarnya nilai akuisisi tambang di kawasan Australia tersebut yang mencapai US$ 2,25 miliar. “Kas perusahaan berdenominasi dollar AS sehingga risiko kurs bisa ditekan,” ujarnya.

Dia juga optimistis, hasil akuisisi tersebut dapat menambah laba bersih ADRO secara jangka panjang. Namun, di sisi lain ia menyebut kontribusi tambang Kestrel terhadap pendapatan ADRO hanya sekitar 5% ketika operasionalnya berjalan.

Sebab, ADRO tak sendiri mengelola tambang tersebut. Emiten ini bergabung bersama EMR dan membentuk perusahaan patungan bernama bernama Kestrel Coal Resources Pty Ltd. Di perusahaan tersebut, kepemilikan saham ADRO tercatat sebesar 48%.

Belum lagi, secara keseluruhan Kestrel Coal Resources Pty Ltd mesti berbagi jatah dengan Mitsui Coal Australia untuk pengelolaan tambang Kestrel dengan komposisi kepemilikan masing-masing sebesar 80% dan 20%.

Selain akuisisi tambang, ADRO juga mulai rajin mendiversifikasikan bisnisnya ke sektor pembangkit listrik. Contohnya, proyek PLTU Batang berkapasitas 2×1000 megawatt serta PLTU di Tanjung, Kalimantan Selatan berkapasitas 2×100 megawatt.

Keberadaan bisnis ketenagalistrikan setidaknya membuat sumber pendapatan ADRO menjadi lebih bervariasi, walaupun kontribusi sektor tersebut masih rendah ketimbang bisnis produksi dan penjualan batubara.

Berkat sejumlah katalis positif tersebut, Arandi merekomendasikan beli saham ADRO dengan target Rp 2.410 per saham. Ia memperkirakan, pendapatan ADRO dapat mencapai US$ 3,84 miliar di akhir tahun nanti. Di saat yang sama, laba bersih emiten tersebut ditaksir mencapai US$ 523 juta.

 

Sumber:

https://investasi.kontan.co.id/news/tren-bullish-harga-batubara-dan-ekspansi-cerahkan-prospek-adaro

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.