Usai akuisisi Star Energy, BRPT kantongi pendapatan US$ 1,55 miliar

Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Agus Salim Pangestu (kedua kanan), Wakil Direktur Utama Rudy Suparman (kedua kiri), Direktur Andry Setiawan (kanan) dan Direktur David Kosasih (kiri) berbincang seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (8/6). BRPT telah menyelesaikan akuisisi Pembangkit Listrik Panas Bumi Star Energy melalui penerbitan saham baru (rights issue) sebanyak-banyaknya 4,39 miliar saham baru dengan harga Rp2.330 per lembar saham. ANTARA FOTO/Audy Alwi/kye/18.

 

JAKARTA — PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merilis laporan keuangan semester I 2018. Perusahaan mencetak pendapatan US$ 1,55 miliar, naik 27,9% year on year

Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan perusahaan hanya mencapai US$ 1,21 miliar. Peningkatan pendapatan tersebut disokong oleh Star Energy yang menyumbang US$ 260 juta yang dari aset panas bumi Salak dan Darajat yang diakuisisi pada Maret 2018.

Selain itu, anak usaha BRPT, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) turut menyumbang US$ 1,28 miliar dari hasil penjualan ethylene dan polyethylene yang meningkat sebesar 7,6% dari periode Juni tahun lalu.

Informasi saja, laporan keuangan ini telah mencakup konsolidasi keuangan Star Energy (SEG) yang 66,67% sahamnya telah diakuisisi BRPT pada 7 Juni 2018 lalu.

Akuisisi BRPT terhadap Star Energy dianggap sebagai kombinasi bisnis antara entitas sepengendali yang diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 38 yang dikeluarkan pada tanggal 11 September 2012.

Oleh karena itu, laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya disajikan kembali seolah-olah Star Energy telah dikonsolidasikan kedalam BRPT sejak 2015.

“Kami tetap optimis terhadap prospek jangka panjang industri petrokimia dan berkeyakinan bahwa kontribusi dari bisnis panas bumi akan terus mendukung kinerja keuangan kami di masa mendatang,” ungkap Agus Pangestu, Direktur Utama BRPT di Jakarta, Kamis (13/9).

Di sisi lain, beban pokok BRPT pada paruh pertama tahun 2018 juga meningkat sebesar 19,6% menjadi US$ 1,1 miliar, dari sebelumnya US$ 924 juta pada paruh pertama tahun 2017.

Menurut General Manager BRPT Fong Adyatama, kenaikan beban ini disebabkan oleh biaya rata-rata naphtha yang meningkat sekitar 29% menjadi US$ 627 per ton pada semester I 2018 dari US$ 486 per ton di semester I 2017, sebagai efek dari kenaikan harga minyak mentah.

“Selain itu, tingkat operasi cracker pada Juni tahun ini dipertahankan pada 97% dibandingkan dengan 98% periode yang sama tahun lalu. Kenaikan beban pokok pendapatan ini juga dipengaruhi oleh biaya langsung dari akuisisi aset Star Energy,” ungkap Fong.

Namun, laba kotor BRPT masih meningkat sebesar 54,5% menjadi US$ 445 juta pada periode Juni 2018 dari US$ 288 juta pada periode Juni 2017. Fong bilang, peningkatan laba kotor sebagian besar disumbangkan oleh akuisisi aset Star Energy.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.